PIJAT PLUS PLUS DI TANGSEL MENJAMUR DIDUGA DIBEKINGI OKNUM

oleh


TANGSEL, Nawacitamewslib.com – Slogan Cerdas, Modern dan Religius yang melekat di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), nampaknya masih menjadi angan-angan semata. Pada kenyataannya, masih banyak ditemukan praktik-praktik asusila yang berkedok sarana pijat kesehatan.

Jasa pijat plus-plus sangat mudah didapati. Hampir di semua Kecamatan yang ada, menjamur sarana pemuas birahi bagi pria hidung belang itu, seperti di Ciputat Timur, Pamulang, Serpong, Serpong Utara, Setu, dan Pondok Aren.

Salah satu lokasi pijat plus-plus yang cukup favorit itu terletak di Jalan Pondok Jagung, RT01 RW02, Pondok Jagung Timur, Serpong Utara, Tangsel. Bangunannya sekilas hanya berupa rumah biasa, namun di dalamnya telah mengalami modifikasi dengan sekat-sekat kamar kecil untuk tempat praktik.

Pijat “Intan” terletak hanya sekira belasan meter dari sebuah masjid di perkampungan padat penduduk itu. Bangunan di sebelah kiri dan kanannya kebanyakan diperuntukkan bagi para pedagang, seperti warung kelontong, pedagang buah, warung sayur dan Sembako.

Terdapat plang besar di sisi gerbang masuk bertuliskan “Urut Pengobatan Traditional Intan. Reflexi, Massage, Lulur Pria dan Wanita”

Gerbang halamannya sengaja tak dibuka lebar, hanya untuk seukuran motor. Setiap tamu yang datang, langsung disambut sapaan menggoda oleh 2 terapis di pintu masuk.

“Mas mau diapain, nanti tinggal pilih aja di dalam masih banyak kok cewek-ceweknya,” sapa beberapa orang terapis berpakaian seksi di ruangan depan, Kamis (7/3/2019).

Dari perbincangan dengan beberapa terapis itu terungkap, bahwa untuk sekali transaksi pijat dan urut biasa harga normalnya adalah Rp150 ribu. Namun bagi pelayanan seks, maka tarifnya meningkat drastis menjadi Rp500 ribu sekali kencan dengan pelayanan full service.

“Ya kalau pijat biasa cuma Rp150 ribu. Kalau mau full service ya gopek (500 ribu), semua kita layani di dalam. Tapi tergantung terapisnya, ada juga yang bisa nego di dalam kamar,” imbuh salah satu terapis berwajah belia.

Wajah-wajah para terapis memang terlihat masih berusia sangat muda, antara 20 hingga 25 tahun. Sebagian besar mereka berkumpul di bagian dalam rumah, sedangkan yang menyapa tamu di ruangan depan hanya beberapa terapisnya saja.

Warga sekitar sebenarnya cukup gusar dengan praktik pijat plus-plus tersebut. Namun mereka tak bisa berbuat banyak, lantaran keberadaan pijat “Intan” yang disebut sudah beroperasi bertahun-tahun itu dibekingi oknum tertentu.

“Kalau kita warga sudah lama protes, karena ini kan tempatnya juga dekat masjid, apalagi posisinya di pinggir jalan, vulgar banget. Mungkin ada bekingnya, jadi tetap operasi aja. Itu kalau tengah malam terapisnya pada ngumpul di luar nunggu ojek, banyak ada sekira 10 an terapis, masih muda-muda banget, keliatan dari wajahnya,” tutur warga berinisial S (51), yang tinggal di seberang pijat “Intan”.

Warga sejak awal curiga dengan banyaknya perempuan muda yang berkumpul keluar-masuk pijat “Intan”. Dugaan itu diperkuat, dengan ungkapan-ungkapan para pelanggan hidung belang yang datang ke warung milik warga sekitar.

“Tamu-tamunya banyak yang cerita di warung kita sambil minum kopi, katanya tarifnya kemahalan karena terapisnya muda-muda. Kalau malam penuh parkiran, mobil, motor sampai parkir di depan halaman warung kita,” lanjutnya.

Keresahan yang sama disampaikan warga lainnya. Mereka berharap, agar lokasi pijat “Intan” segera ditutup lantaran mengumbar praktik asusila berkedok pijat kesehatan. Meski begitu, warga tak mau menempuh jalur “main hakim” sendiri dan mendesak aparat terkait turun ke lapangan guna menertibkannya.

“Keinginan kita segera ditutup, itu aspirasi warga. Ya bisa saja ada orang-orang kuat dibelakangnya yang menentang, maka nya kita minta aparat tegas, jadi apa yang digaungkan oleh Ibu Wali Kota Airin tentang Tangsel Kota Cerdas, Modern dan Religius itu sesuai fakta, bukan malah seperti ini,” tukas warga lainnya.

(A.Humaini)